Tampilkan postingan dengan label pengembangan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengembangan diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

FILOSOFI SEMAR (Sebuah Kesimpulan)

Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya.

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

  • Bebadra = Membangun sarana dari dasar
  • Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
  • Artinya: Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Menurut Javanologi: Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun).

  • Semar tidak lelaki dan bukan perempuan.
  • Tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang. Maknanya: “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.
  • Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel – (karang = gersang; dempel = keteguhan jiwa).
  • Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan: “akuning sang kuncung” = sebagai kepribadian pelayan.
  • Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
  • Semar berjalan menghadap ke atas maknanya: “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain Semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono: menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah:

  • Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
  • Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
  • Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
  • Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
  • Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Di kalangan spiritual Jawa, Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa.

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya berbunyi: Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna:

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan. Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Bocah Bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sa sisih sapi gumarang

Teks empat baris yang menggambarkan Bocah Bajang (anak yang tidak bisa besar atau cacat) tersebut merupakan salah satu Jineman atau lagu yang selalu dikumandangkan pada pegelaran Wayang Purwa, khusus untuk mengiringi munculnya tokoh Semar pada waktu goro-goro. Hal tersebut tidak secara kebetulan, tetapi merupakan sebuah ekspresi kreatif untuk menyampaikan sesuatu makna yang dianggap penting, melalui lagu Bocah Bajang dan wayang Semar.

Semar merupakan gambaran Kesempurnaan yang tinggal dan hidup dalam manusia yang lemah dan cacat.

Tokoh Semar mempunyai sifat pribadi yang mendua. Ia adalah dewa bernama Batara Ismaya, yang manitis (tinggal dan hidup) pada seorang manusia cebol, berkulit hitam, bernama Ki Semarasanta. Bentuk wayangnya pun dibuat mendua: bagian kepala adalah laki-laki, tetapi payudara dan pantatnya adalah perempuan. Rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak, tetapi sudah memutih seperti orang tua. Bibirnya tersenyum menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan, tetapi matanya selalu basah seperti sedang menangis sedih. Oleh karena serba misteri, tokoh Semar dapat dianggap dewa, dapat pula dianggap manusia. Ya laki-laki, ya perempuan, ya orang tua dan sekaligus kanak-kanak, sedang bersedih tetapi dalam waktu yang sama juga sedang bergembira. Maka tokoh ini diberi nama Semar asal kata samar, yang berarti tidak jelas.

Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dlam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.

Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.

Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya, yaitu: terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri.

Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Pada upaya bersatunya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.


(di copas dari http://daydreamer13.wordpress.com/2010/01/20/filosofi-semar-kesimpulan)

Sabtu, 17 Desember 2011

Etika, Moral, dan, Susila

Pengertian Etika Secara bahasa etika berasal dari bahasa Yunani; ethos; yang berarti adat istiadat ( kebiasaan ), kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Dari pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
dalam Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, etika adalah bagian dari filsafat yang mengajarkan tentang keluhuran budi (baik/buruk). Menurut istilah etika adalah ilmu yang menjelaskan baik dan buruk dan menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Konsep etika bersifat humanistis dan anthropocentris, karena didasarkan pada pemikiran manusia dan diarahkan pada perbuatan manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan yang dihasilkan oleh akal manusia.
Dari definisi etika tersebut diatas, dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut : 1. Dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Membahas tentang baik dan buruknya tingkah laku dan perbuatan manusia. 2. Dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat.
Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute dan tidak pula universal. Ia terbatas,dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan sebagainya. 3. Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. 4. Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.
Kesimpulannya: Dengan ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatan baik atau buruk. Perbuatan baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.

Pengertian Moral Dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Dari segi istilah, moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Acuan moral adalah system nilai yang hidup dan diberlakukan dalam masyarakat.

Pengertian Susila Dari segi bahasa, berasal dari bahasa Sanskerta, Su: artinya baik, dan sila: artinya prinsip, dasar, atau aturan Susila atau kesusilaan diartikan sebagai aturan hidup yang lebih sopan,baik dan beradab. Kesusilaan merupakan upaya membimbing, memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma/nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.Kesusilaan menggambarkan dimana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik. Kesusilaan dalam pengertian yang berkembang di masyarakat mengacu kepada makna membimbing, memandu, mengarahkan, dan membiasakan seseorang atau sekelompok orang untuk hidup sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Ada beberapa persamaan antara etika, moral dan susila sebagai berikut:
1. Etika, moral dan susila mengacu kepada ajaran atau gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, sifat, dan perangkai yang baik.
2. Etika, moral dan susila merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar martabat dan harakat kemanusiaannya. Sebaliknya semakin rendah kualitas etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya.
3. Etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang tidak semata-mata merupakan faktor keturunan yang bersifat tetap, stastis, dan konstan, tetapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap orang. Untuk pengembangan potensi positif tersebut diperlukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara terus menerus, berkesinambungan, dengan tingkat konsistensi yang tinggi.
4. Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk. •

Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal: 1.Objek: yaitu perbuatan manusia 2.Ukuran: yaitu baik dan buruk . 3.Tujuan: membentuk kepribadian manusia

Selain ada persamaan antara etika, moral dan susila sebagaimana diuraikan di atas terdapat pula beberapa segi perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing dari keempat istilah tersebut. Berikut ini adalah uraian mengenai segi-segi perbedaan yang dimaksud:
* Sumber atau acuan:
- Etika sumber acuannya adalah akal
- Moral sumbernya norma atau adat istiadat
- Susila sumbernya nilai - nilai yang berkembang dan dipandang baik oleh masyarakat.
* Sifat Pemikiran:
- Etika bersifat teoritis
- Moral bersifat praktis
- Susila bersifat praktis
* Pandangan mengenai tingkah laku:
- Etika memandang tingka laku manusia secara umum
- Moral dan susila memandang tingkah laku manusia secara lokal atau khusus


Selasa, 08 November 2011

Pembuktian Keimanan dengan Metode Sains

Hukum fisika menegaskan bahwa setiap apa yang ada dalam ruang akan selalu menjalani waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, rangkaian itu disebut ‘proses’. Proses yang dimaksud adalah seni pembentukan pola-pola waktu menjadi lebih teratur. Untuk optimalisasi, kita biasanya memunculkannya dalam bentuk prosedur kerja yang bisa diterima semua orang, semacam ‘program aplikasi’ dalam istilah Teknologi Informasi (TI) . Karena manusia cenderung pada hal-hal yang indah dan teratur, maka hampir setiap aktivitas manusia memiliki prosedur kerja yang indah dan teratur. Yang paling menonjol di era sekarang adalah prosedur kerja dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam istilah yang lebih umum, orang-orang biasa menyebutnya metode ilmiah.

Pembentukan metode ilmiah pada mulanya terinspirasi oleh sistem peradilan bangsa Yunani kuno: semua tuduhan harus dibuktikan secara terbuka. Ketika Eropa sedang dalam masa kegelapan di bawah hegemoni gereja, sistem tersebut diadopsi orang-orang Islam. Dari abad 8 sampai abad 13, peradaban Islam mengembangkannya menjadi metode eksperimen. Metode ini selanjutnya menjadi jalan satu-satunya di mana tidak ada jalan lain untuk ilmu pengetahuan1. Sewaktu peradaban Islam runtuh, bersamaan dengan Gerakan Renaisance, metode eksperimen diserap orang-orang Eropa. Hasilnya adalah metode ilmiah yang diajarkan di sekolah-sekolah modern sekarang ini.

Metode Ilmiah

Beberapa kejadian spesifik ditangkap indera, dengan atau tanpa bantuan peralatan. Kejadian ini selanjutnya menjadi masalah bagi si pengamat. Pikiran mengolah ciri-ciri fisik fenomena tersebut, lalu data-data akan dikumpulkan dalam waktu yang lama, sebelum diputuskan. Semacam penjelasan lalu dibangun dalam pola-pola tertentu, sehingga dengan alasan induktif pikiran akan memanfaatkannya untuk menyusun hipotesis. Untuk menghindari adanya spekulasi, alasan tersebut harus melibatkan proses generalisasi, dan itu biasanya menjadikannya tipe alasan yang paling sulit. Hipotesis biasanya mempunyai kerangka yang sebagian atau semuanya menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa sehari-hari. Bahasa yang dipakai adalah matematika.

Selanjutnya hipotesis digunakan untuk mengira apa yang akan terjadi di masa depan jika cara-cara tertentu digunakan. Perkiraan itu bisa diambil dari hipotesis dengan menggunakan alasan yang deduktif (maksudnya main comot aja!). Perkiraan ini akan dibuktikan melalui eksperimen. Dalam hal ini, eksperimen mungkin mudah dirancang, tapi dalam banyak kasus biasanya cukup merepotkan. Butuh peralatan yang rumit, canggih, dan tentunya mahal, serta butuh banyak pekerja. Kalaupun semua itu sudah dibangun, sering kali para peneliti kurang sabar untuk mengolah informasi-informasi yang telah didapatkan.

Setelah tahap percobaan diselenggarakan, hasilnya disesuaikan dengan perkiraan. Karena hipotesis sifatnya umum dan perkiraan sifatnya khusus, maka percobaan tersebut tidak serta-merta membuktikan kebenaran hipotesis, tapi sekedar mendukung. Tapi kalau percobaan tidak cocok dengan perkiraan, maka dapat dipastikan bahwa hipotesis tersebut salah. Einstein mengekspresikan kecenderungan ini ketika ia mengungkapkan: “Tidak ada sejumlah pecobaan yang bisa membuktikan bahwa aku benar, tapi satu percobaan saja akan membuktikan kesalahanku”.

Hipotesis yang salah harus didaur ulang–dimodifikasi sedikit atau diubah secara keseluruhan—atau yang lebih tragis biasanya dibuang begitu saja. Keputusan tentang seberapa besar perubahan tersebut bisa jadi merupakan tugas yang justru lebih sulit dan runyam dari penyusunan awalnya. Hipotesis generasi baru itu tentu harus melewati prosedur kerja yang berurutan dari awal lagi, dan begitu seterusnya.2

Keimanan Harus Dibuktikan

Sebagian orang mengira bahwa memahami alam itu bagaikan membuka kotak dalam kotak. Hasil pemahaman itu, maksudnya sains, akan terus memperbaiki diri seiring dengan penemuan demi penemuan. Konsekuensinya, kita tidak akan pernah mencapai pada apa yang disebut ‘penjelasan terakhir’. Kita akan senantiasa mendapati kotak-kotak baru di dalam kotak yang telah berhasil dibuka, dan begitu seterusnya. Namun Hawking betul-betul meragukan anggapan ini. Dalam pelantikannya sebagai Lucasian Profesor of Mathematics pada lembaga ilmiah tertua di planet bumi ini, Royal Society, beliau mengejutkan kalangan fisika dengan tema ceramah yang disampaikannya: “Apakah Akhir dari Fisika Teoretis telah Tampak?”.3

Dalam filsafat Aristotelian, alam semesta dianggap sebagai suatu objek raksasa yang mengandung peraturan alami yang sangat disiplin dan teratur. Aturan yang dimaksud selanjutnya disebut hukum alam. Selepas abad pertengahan, filsafat itu dikembangkan lebih lanjut oleh Rene Descartes dari Prancis. Filsafat Cartesian menyatakan bahwa keteraturan alam seperti sebuah mesin, setiap bagiannya bertalian erat satu sama lain membentuk pergerakan universal yang rumit. Sebagai makhluk yang dibekali kecerdasan dan rasa ingin tahu luar biasa, manusia tentu akan bertanya-tanya: bagaimana cara kerja mesin alam? Beberapa generasi pemikir melakukan spekulasi filsafat, uji coba, eksperimen, dan yang terakhir telaah matematika. Suatu masa di ujung abad 20, hampir semua orang yakin bahwa sains telah hampir mengetahui semuanya. Orang-orang meyakini bahwa selangkah lagi sains akan mencapai kesempurnaan. Dan Stephen Hawking disebut-sebut sebagai pengemban tantangan paling berat dalam sejarah peradaban tersebut.

Hawking adalah salah satu ilmuwan paling cemerlang di era modern ini. Kedudukannya sering disejajarkan dengan Isaac Newton dan Albert Einstein. Sejak usia 20-an, beliau menderita penyakit Lou Gehrig atau ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit saraf motorik yang mematikan pertumbuhan otot atau daging. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan bisa membawa kematian. Ketika beliau mencapai puncak kecemerlangannya, penyakit tersebut bukan hanya telah melumpuhkannya, tapi juga sudah membungkamnya (membuatnya bisu, karena otot lehernya mati). Namun, orang-orang berharap banyak pada otaknya, satu-satunya organ tubuh yang tidak terpengaruh penyakit itu. Meskipun pada awalnya dokter memvonis hidupnya tinggal dua tahun lagi, namun Hawking bisa bertahan sampai sekarang. Dan semua orang masih menunggu Hawking menyelesaikan tantangan tersebut.

Sayang sekali, sampai datangnya millenium ketiga, melalui karya fenomenalnya yang berjudul A Brief History of Time, Hawking hanya bisa berkata: “Kita akan segera mengetahui pikiran Tuhan”4. Kalau kita menengok sejarah, kita pun akan mendapati pernyataan-pernyataan serupa yang pernah diucapkan berbagai tokoh terkemuka sains. Albert Michaelson, ketika hendak melakukan eksperimen ‘berburu eter’, dia dengan sangat meyakinkan berkata: “Tugas fisika hanya tinggal mengisi angka di desimal ke enam”5. Begitu juga Max Born yang juga pernah sesumbar: “Enam bulan lagi fisika akan berakhir”.6

Jangan-jangan ungkapan-ungkapan itu hanyalah bentuk kekaguman mereka atas kecerdasan mereka sendiri. Hampir semua orang sepakat bahwa alam semesta adalah suatu konstruksi raksasa dengan sistem yang menyerupai sebuah mesin. Bayangkan seorang insinyur yang membuat buku panduan untuk mesin buatannya, begitu pulalah pekerjaan Tuhan dalam mencipta ‘mesin’ alam semesta-Nya. Dia tentu membuat semisal buku panduan untuk alam semesta-Nya. Dan buku panduan tersebut tidak lain adalah kitab suci. Untuk itu, metode ilmiah harus diperluas dengan basis kitab suci.

Selain memiliki kebenaran ilahiah, yakni kebenaran yang diyakini telah melekat sejak kemunculannya, ayat-ayat kitab suci juga harus mengandung kebenaran yang sifatnya ilmiah atau bisa dibuktikan secara terbuka melalui sidang pengadilan, eksperimen, atau cara-cara apapun, karena pada dasarnya hanya ada satu definisi kebenaran yang kita ketahui. Tak masalah jika kebenaran yang diyakini sebagai ‘iman’ dijadikan sebagai bahan fundamental metode ilmiah. Intinya, bahwa keimanan juga harus bisa dibuktikan.

Metode Dualisis

Hawking yakin betul bahwa manusia akan segera memahami pikiran Tuhan, maksudnya kita akan segera mencapai kesempurnaan sains. Cara yang beliau tempuh melalui matematika mungkin sudah mentok, tapi bukankah pepatah “masih banyak jalan menuju kota Roma” masih relevan? Saya hanya ingin mengatakan (khususnya kepada Hawking) bahwa kalau kita ingin mengetahui pikiran Tuhan, sebaiknya tanyakan langsung kepada Tuhan. Itu bisa dilakukan dengan memperluas metode ilmiah yang semata berbasis empirisme menuju basis kitab suci. Metode yang dimaksud selain memuat hipotesis, juga memuat holitesis (premis kitab suci). Itulah ‘metode dualisis’.

Pertama, pikiran mengolah ciri-ciri fisik suatu fenomena, kemudian data-data dikumpulkan dalam waktu lama. Berdasarkan data-data itu, dibangunlah hipotesis, yang melibatkan matematika. Hipotesis ini dibangun dengan alasan induktif, melalui suatu proses generalisasi. Selain itu, dengan alasan deduktif, sebuah premis disimpulkan dari pernyataan-pernyataan kitab suci, yang tentunya bertalian dengan hipotesis. Premis inilah yang kemudian disebut holitesis.

Sekarang bayangkan cara makan pizza yang benar. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memotong-motong pizza itu menjadi bagian-bagian kecil. Bentuk pizza adalah lingkaran. Lazimnya lingkaran, tentu memiliki titik pusat dan keliling. Ibaratkan titik pusat itu sebagai hipotesis dan garis sepanjang tepi atau kelilingnya sebagai holitesis. Kalau salah satunya tidak ada, bagaimana orang bisa memotong-motong pizza itu? Fungsi holitesis di sini sebagai penopang hipotesis, dengan cara memberi ‘pemastian’ tentang apa yang dinyatakan hipotesis, seperti garis yang memastikan tepi suatu pizza .

Selanjutnya, kalau hipotesis sudah mempunyai prosedur matematika yang lengkap, maka ia bisa digunakan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang apabila cara-cara tertentu digunakan. Perkiraan dibuat dengan alasan deduktif, sedemikian rupa sehingga apa yang diperkirakannya bertalian dengan holitesis. Sebut saja perkiraan semacam ini ‘perkiraan baku’. Perkiraan baku kemudian akan dibuktikan melalui percobaan. Hasil-hasil percobaan lalu dibandingkan lagi dengan perkiraan. Karena hipotesis-holitesis bersifat umum, dan perkiraan bersifat khusus, maka hasil percobaan yang cocok tidak serta-merta membenarkan mereka, tapi hanya mendukungnya. Tapi kalau hasilnya tidak cocok, beberapa aspek hipotesis pasti salah, begitu juga holitesis. Jika memang belum yakin, hipotesis bisa didaur ulang dan holitesis juga harus mencari alternatif pemastian lain (misalnya dengan rujukan kitab tafsir yang lain), lalu diuji coba lagi, dan begitu seterusnya.

Kalau hasil percobaan berikutnya betul-betul tidak cocok bagaimana? Kita punya dua keuntungan besar: mata kita jadi tahu bahwa alam semesta memang tidak punya karakteristik seperti apa yang diperkirakan sebelumnya, dan hati kita pun akan mulai menyadari bahwa kitab-kitab yang mengandung pernyataan seperti itu perlu dipertanyakan kesuciannya, sebab ia salah menginformasikan sifat-sifat alam, yang seharusnya tidak boleh terjadi. Ingatlah, sebuah kitab dikatakan ‘suci’ apabila semua penjelasannya bernilai ‘benar’. Apabila ia salah, meskipun hanya ‘secuil’ aspek saja, maka ia harus dicoret dari daftar kitab suci.

Misalnya, dalam beberapa ayatnya, Alquran menjelaskan bahwa organisme manusia berasal dari sari pati tanah, lalu sari pati tersebut dijadikan air mani (sperma) yang disimpan ditempat yang kokoh atau rahim (QS. 23:12-13). Kalau memang pernyataan ini tidak sesuai dengan realitas, maka Alquran harus dicoret dari daftar kitab suci. Jadi, metode ini adalah tantangan bagi ilmuwan spiritualis, ustad, pastur, bikshu, masyarakat religius, dan sebagainya untuk terjun langsung ke lapangan observasi untuk mengukuhkan kesucian kitab yang mereka imani.

Metode dualisis bagaikan delta pada muara diantara dua anak sungai. Delta itu membentuk endapan dari penggabungan metode sains dan metode teks kitab suci. Pemikiran kedua-duanya mengalir deras dalam kanal alami masing-masing. Ketika mereka dipertemukan dalam satu muara, mereka akan meninggalkan sari-sari subtansial masing-masing untuk saling berintegrasi satu sama lain, sehingga akan menjadi endapan yang subur untuk pertumbuhan pemikiran berikutnya. Dan metode ini begitu kuat menggabungkan dua kelompok cendikiawan yang senantiasa bertikai, ilmuwan dan agamawan.

Definisi Kitab Suci

Bagaimana cara menentukan definisi kitab suci? Tuhan telah menginformasikan—yang ditransfer melalui Muhammad dalam bentuk yang dikenal sebagai hadits—bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia di bumi ini, Tuhan telah melantik sejumlah 124.000 manusia pilihan sebagai nabi, yang pertama adalah Adam dan yang terakhir adalah Muhammad itu sendiri. Dari sekian jumlah tersebut, hanya 313 orang saja yang selain dilantik sebagai nabi juga diberi tugas sebagai rasul.

Apa bedanya nabi dan rasul? Mereka yang dipilih sebagai nabi diberi informasi secara langsung (wahyu) oleh Tuhan tentang diri-Nya dan alam semesta ciptaan-Nya, tanpa dibebani kewajiban untuk mewartakannya kepada orang lain. Sedangkan seorang rasul adalah manusia pilihan yang selain dianugerahi wahyu, juga diberi tanggung jawab untuk memberitakannya kepada semua orang atau hanya terbatas pada suatu bangsa yang sedang mengalami degradasi di zamannya. Ciri paling umum dari seorang rasul adalah memiliki kitab suci, meskipun isinya hanya sepatah kata sekalipun. Berdasar informasi ini, peradaban kita seharusnya memiliki sejumlah 313 judul teks kitab suci. Sayangnya, kita kehilangan sebagian yang sangat besar dari jumlah tersebut. Hanya beberapa judul saja yang sampai di tangan generasi modern, sebagian besar ada di catatan Perjanjian Lama, sebagian lagi ada di catatan Injil dan Alquran, dan tanpa diketahui kaitan historisnya sebagian lagi ada di catatan Budhisme, Hinduisme, dan sebagainya.

Masalah yang paling berat sebetulnya terletak pada ketiadaan kata sepakat bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari satu Tuhan yang sama. Ada dua faktor yang menimbulkan hal ini, yakni faktor historis dan intervensi manusia.

Pertama, disebabkan sistem informasi yang sangat buruk di masa lalu, suatu informasi dapat berubah seiring dengan bergulirnya masa. Distribusi informasi yang hanya dari mulut ke mulut sangatlah memungkinkan terjadinya mis-interpretasi antar generasi. Semua orang sudah maklum, tidak ada orang yang dengan sangat teliti bisa mentransfer suatu informasi dengan keautentikan mencapai 100%7. Kalau tidak dikurangi, mungkin ditambahi. Ini mungkin sudah menjadi sunatullah atas diri manusia. Nah, kurang-kurangan dan tambah-tambahan itu lama-kelamaan akan semakin terakumulasi dan meluas ke bidang-bidang baru. Hal ini akan mengakibatkan tersingkirnya informasi asli sedikit demi sedikit, sehingga tanpa sadar, di suatu masa depan, bahkan informasi asli tersebut telah terkubur oleh bumbu-bumbu yang ditaburkan para pentransfer informasi kitab suci. Apalagi teknologi komunikasi dan informasi zaman para nabi hanya mengandalkan kepercayaan dan kejujuran para usernya, yang memang sangat diragukan.

Yang kedua, faktor intervensi manusia. Konsekuensi faktor yang satu ini jauh lebih membahayakan, karena penyelewengannya akan terjadi pada generasi yang tidak jauh dari generasi nabi. Para penulis, penyalin, penerjemah, dan penafsir kitab suci sering kali dengan kesengajaan memanipulasi data dan informasi suatu kitab suci. Kesengajaan tersebut biasanya didasari beragam kepentingan: politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Kesengajaan itu pun biasanya didasari beragam motivasi: ada yang baik dan ada juga yang buruk. Yang jelas, apa yang mereka kerjakan telah membuat kitab suci tidak orisinal lagi, sehingga nilai sakralnya hilang. Bukan hanya itu, pekerjaan mereka juga kerap membuat suatu kitab suci justru mengandung informasi yang salah. Dan di sinilah terletak pentingnya penyeleksian melalui metode dualisis.

Sebuah aset yang melimpah jika kita sekarang memiliki beragam kitab suci. Semuannya sejajar dalam metode dualisis. Seiring dengan berjalannya masa, realitas atau fakta akan menyeleksi kitab mana saja yang betul-betul memenuhi standart metodologi. Setiap orang harus legowo kalau memang di dalam kitab suci yang sangat diyakininya mengandung beberapa informasi yang tidak sesuai, sehingga harus dicoret dari daftar kitab suci.

Masih ingat perseteruan antara kelompok yang yakin keberadaan penjelasan terakhir (kelompok Hawking) dan kelompok yang tidak percaya akan hal itu (ilmuwan pada umumnya)? Pekerjaan manusia untuk memahami alam ini merupakan pekerjaan abadi yang tak akan pernah berhenti pada suatu titik sejarah. Pekerjaan Tuhan ialah menciptakan, mengurus, dan mengatur semesta raya, sedangkan tugas makhluk-makhluk cerdas seperti kita tentu memahaminya. Yang dimaksud ‘penjelasan terakhir’ semuanya telah termaktub dalam kitab suci. Seperti halnya seorang insinyur membuat buku panduan untuk mesin buatannya, Tuhan pun tentu membuat semisal buku panduan seperti itu untuk alam buatanNya. Manusia harus mencarinya tanpa kenal lelah, melalui matematika, hipotesis-hipotesis, holitesis-holitesis, perkiraan-perkiraan, dan dengan cara apapun, asalkan tidak melanggar peraturan Tuhan.

Kasus Penyimpangan

Metode dualisis telah digunakan secara luas oleh para pemikir generasi terdahulu, terutama dari kalangan agama. Sebagai bukti, saya akan mengajukan dua kasus yang bisa dijadikan bukti bahwa ia telah ada di tengah-tengah kita sejak dulu: kasus Geosentrisme dan kasus tafsir ilmiah Alquran. Gaya ilmiah yang dipakai orang-orang di dalamnya hampir mirip metode dualisis, hanya saja mereka membalik prosesnya: sama sekali tidak konsisten dengan eksperimen.

Sejak pertengahan abad 19, orang Islam dihadapkan pada tantangan hebat dari Barat, bukan hanya pada bidang politik, ekonomi, dan militer, tapi telah meluas sampai ke bidang sosial-budaya, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan ini memberi pengaruh sangat besar terhadap pandangan hidup serta pemikiran orang Islam. Di sana-sini mereka menyaksikan kekuatan Barat dan kemajuannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Di sisi lain, mereka merasakan kelemahan dan kemunduran diri mereka sendiri dalam berbagai lapangan kehidupan, terutama iptek. Keadaan ini menimbulkan semacam perasaan rendah diri (inferiority complex) pada sebagian besar dari komunitas mereka. Para intelektual muslim berusaha membuat reaksi, meskipun dengan cara-cara yang tidak tepat. Ada yang mengambil sikap apatis atau acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, ada juga yang dengan spontan meletakkan senjata untuk menyerah dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, meskipun dalam hal yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat. Ada pula kelompok yang mengajak masyarakat Islam untuk mengikuti, menerima, dan belajar ilmu pengetahuan dari Barat serta sistem-sistemnya mencapai kemajuannya, tanpa perlu meninggalkan kepribadian sendiri.

Selain itu, satu hal yang tidak bisa dipungkiri telah mewabah di kalangan Islam adalah pelampiasan dengan mengingat kejayaan masa lalu. Pengaruhnya sangat signifikan untuk perkembangan pemikiran, khususnya pada metode penafsiran Alquran. Setiap ada penemu Barat yang menemukan sesuatu yang baru, orang Islam cepat-cepat berkata: “kitab suci kami sejak 14 abad silam sudah menyatakannya”, atau “Alquran mendahului sains”, dan sebagainya. Oleh Dr. Quraisy Shihab, melalui bukunya yang berjudul Membumikan Alquran, semua pernyataan itu dikatakan sebagai kompensasi dari perasaan rendah diri tadi. Di lain pihak, orang-orang Barat hanya tersenyum mengejek melihat keadaan orang Islam, dan senyuman tersebut terkadang disertai dengan kata-kata sinis: “Kalau memang itu yang terjadi, kenapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal itu sebelum kami menghabiskan waktu dalam penyelidikan?”.8

Metode tafsir Alquran yang dikerjakan generasi Islam sekarang hampir mendekati metode dualisis, mereka hanya membalik prosesnya. Saya kira hal itu terjadi karena mereka enggan ikut bergabung ke lapangan observasi. Sebagian intelektual muslim justru membawa hasil-hasil penyelidikan sains kepada Alquran, dan mencari ayat-ayat yang mungkin mendukungnya. Metode dualisis yang saya ajukan mengharuskan agar Alquran-nya yang dibawa masuk ke dalam prosedur observasinya, bukan malah sebaliknya. Saya kira keengganan orang Islam inilah yang menyebabkan mereka masuk ke dalam zaman kegelapan, selain sebab-sebab yang lain. Gaya tafsir ilmiah seperti ini juga pernah menjangkiti orang Kristen pada abad pertengahan.

Pada abad 2 masehi, berbarengan dengan penulisan Alkitab, institusi gereja berdiri. Setelah melalui serangkaian pertempuran, pada abad 5 masehi, gereja mengambil alih kekaisaran Romawi Barat, yang berpusat di kota Roma. Pengambil-alihan ini sekaligus menandai masuknya ‘benua biru’ menuju zaman kegelapan. Gereja terus merambah pedalaman Eropa dan menguasai masyarakatnya dalam berbagi sektor, termasuk sektor ilmu pengetahuan dan teknologi. Puncaknya terjadi pada abad 17, ketika Galileo menerapkan metode eksperimen untuk ilmu pengetahuan di lingkungan mereka. Gereja mengakuisisi beliau tanpa melalui proses peradilan yang seharusnya.

Telaah Alkitab

Metode telaah Alkitab yang dikerjakan gereja lebih bersifat indoktrinasi. Para cendikiawan gereja penafsir Alkitab biasanya menganut teori-teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, karena dianggap cocok dengan pernyataan kitab suci. Misalnya Teori Geosentrik (planet bumi sebagai pusat alam semesta) yang dinyatakan Aristoteles pada zaman sebelum masehi dan disempurnakan Claudius Ptolemeus pada zaman pergerakan gereja. Mereka melontarkan nas-nas Alkitab yang dianggap mendukung teori tersebut, misalnya pada ayat: “Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali (Pengkhotbah 1:4-5)”. Dan ada juga ayat: “Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh (Yosua 10:13)”.

Ayat-ayat di atas ditafsirkan secara harfiah sebagai Geosentrisme, sehingga siapa saja yang mengingkarinya sama saja mengingkari Alkitab. Sebab itu, mereka yang ingkar divonis kafir atau keluar dari Kristianitas, dan berhak mendapat kutukan. Anehnya, sepakatnya gereja terhadap konsep Aristoteles sama sekali tidak melalui prosedur eksperimen yang semestinya. Di lain pihak, para ilmuwan mengerjakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Sayangnya, hasil yang mereka dapatkan sangat bertentangan dengan kepercayaan yang dianut gereja. Akibatnya, tidak sedikit ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban dari penemuannya sendiri: Bruno Bauer, George van Paris, yang puncaknya terjadi pada kisah penghakiman Galileo Galilei. Saya kira kisah ini juga menunjukkan bahwa metode dualisis juga sudah dikerjakan generasi manusia terdahulu, meskipun cara yang mereka tempuh kurang tepat.

Sudah cukup kiranya itu saja yang terjadi. Di masa-masa mendatang, generasi penerus perjuangan manusia di planet ini harus berbenah. Gaya tafsir ilmiah yang tidak konsisten dengan data-data empiris harus dibuang jauh-jauh. Bagaimanapun, satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa sesuatu adalah benar tentunya harus dengan bukti. Dan bukti tersebut hanya bisa diungkapkan melalui eksperimen, selain cara-cara yang lain. Metode dualisis yang sedang dibicarakan di sini bermaksud membawa kitab suci dan kita sendiri (sebagai subjek) untuk terlibat langsung ke lapangan observasi. Seharusnya tak usahlah enggan kalau memang kita meyakini bahwa kebenaran ilahiah dan kebenaran ilmiah itu sama. Generasi ini harus bisa membuktikannya, tidakkah Anda tertantang!

Dikutip dari:

1Seri Mengenal dan Memahami Newton dan Fisika Klasik (William Rankin)

2Lima Masalah Terbesar Sains yang Belum Terpecahkan (Arthur W. Wiggins dan

Charles M. Wynn)

3Stephen Hawking: Pencarian Teori Segala Hal (Kitty Ferguson)

4Riwayat Sang Kala (Stephen William Hawking)

5Seri Mengenal dan Memahami Einstein (Joseph Schwartz dan Michael McGuenness)

6Stephen Hawking dan Lubang Hitam (Black Holes) (Paul Strathern)

7Hukum Efisiensi

8Membumikan Alquran (Dr. Quraisy Shihab)


"semoga artikel yg telah dibagikan ini menjadi penyemangat dan penambah gairah hidup, dan juga keimanan serta rasa taqwa kita kepada tuhan yang maha esa lagi maha kuasa".

foto: homepages.udayton.edu

sumber tulisan: http://netsains.com/2008/11/mensinergikan-metode-teks-dan-eksperimen

Senin, 03 Oktober 2011

Membiasakan Prilaku Terpuji (Menghargai Karya Orang Lain)

Menghargai hasil karya orang lain merupakan salah satu upaya membina keserasian dan kerukunan hidup antar manusia agar terwujud kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menghargai sesuai dengan harkat dan derajat sesuai dengan harkat dan derajat seseorang sebagai manusia. Menumbuhkan sikap menghargai hasil karya orang lain merupakan sikap yang terpuji karena hasil karya tersebut merupakan pencerminan pribadi penciptanya sebagai manusia yang ingin diharagai.

Hadits yang nabi Muhammad yang artinya :“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bekerjan dan menekuni kerjanya.” (HR Baihaqi)

Menghormati dan menghargai karya orang lain harus dilakukan tanpa memandang derajat, status, warna kulit, atau pekerjaan orang tersebut karena hasil karya merupakan pencerminan pribadi seseorang. Berkarya artinya melakukan atau mengerjakan sesuatau sampai menghasilkan sesuatu yang menimbulkan kegunaan atau manfaat dan berarti bagi semua orang. Karya tersebut dapat berupa benda, jasa atau hal yang lainnya

Islam sangat menganjurkan umatnya agar saling menghargai satu sama lain. Sikap menghargai terhadap orang lain tentu didasari oleh jiwa yang santun atau al hilmu yang dapat menumbuhkan sikap menghargai orang di luar dirinya. Kemampuan tersebut harus dilatih terlebih dahulu untuk mendidik jiwa manusia sehingga mampu bersikap penyantun. Seperti contoh, ketika bersama-sama menghadapi persoalan tertentu, seseorang harus berusaha saling memberi dan menerima saran, pendapat atau nasehat dari orang lain yang pada awalnya pasti akan terasa sulit. Sikap dan perilaku ini akan terwujud bila pribadi seseorang telah mapu menekan ego pribadinya melalui pembiasaan dan pengasahan rasa empati melaui pendidikan akhlak.

Kita tidak dapat mengingkari bahwa keberhasilan seseorang tidak dicapai dengan mudah dan santai tapi dengan perjuangan yang gigih, ulet, rajin dan tekun serta dengan resiko yang menyertainya. Oleh karena itu, kita patut memberikan penghargaan atas jerih payah tersebut. Isyarat mengenai keharusan seseorang bersungguh-sungguh dalam berkarya dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai berikut.

Artinya : “…Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh kerjaan yang lain.” (QS Al Insyirah : 5-7) lihat al-Qur’an online di Goole,

Cara yang bisa diwujudkan untuk menghargai hasil karya orang lain adalah dengan tiak mencela hasil karya orang tersebut meskipun hasil karya itu menurut kita jelek. Memberikan penghargaan terhadap hasil karya orang lain sama dengan menghargai penciptanya sebagai manusia yang ingin dan harus dihargai. Bisa menghargai hasil karya orang lain merupakan sikap yang luhur dan mulia yang menggambarkan keadilan seseorang karena mampu menghargai hasil karya yang merupakan saksi hidup dan bagian dari diri orang lain tanpa melihat, kedudukan , derajat, martabat, status, warna kulit dan pekerjaan orang tersebut.

Perintah untuk berbuat baik kepada orang lain dapat diwujudkan dengan menghargai dan mensyukuri karyanya, baik dirasakan secara langsung atau tidak. Karena pada hakekatnya mensyukuri manusia dalam waktu yang sama adalah mensyukuri Allah Swt., sebab karya yang ada pada manusia adalah titipan Allah Swt. dengan kata lain, kebaikan yang ada pada manusia bersumber dari kebaikan Ilahi, berarti bila kita tidak bersyukur kepada manusia, sama artinya tidak bersyukur kepada Allah Swt. Rasul Saw. bersabda: “Man lam yasykurinnas lam yasy kurillah” (Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti tidak berterima kasih kepada Allah). Dan itu sedikit orang yang melakukan. Maha Benar Allah Swt. yang telah berfirman sedikit sekali hambaku yang bersyukur”. (QS. 34 : 13).

Hal demikian bisa terjadi karena beberapa faktor:
Pertama : Memandang bahwa kebaikan itu bersumber dari pelaku itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan iri hati, dengki dan ingin menggusur nikmat yang ada pada orang lain atau paling tidak nikmat itu pindah kepadanya. Dan ini adalah tingkatan dengki yang terkecil, sedangkan tingkatan dengki yang paling besar adalah hilangnya jasa, kebaikan yang ada pada orang lain walaupun sama-sama tidak mendapat.
Kedua : Selalu melihat ke atas. Dalam urusan duniawi kita tidak dianjurkan untuk selalu melihat ke atas, tapi sebaliknya kita dianjurkan melihat ke belakang dan melihat ke bawah. Dalam konteks pemekaran Kabupaten Batu Bara para pemekar telah banyak berjasa dalam membantu masyarakat untuk keluar dari berbagai problematika kehidupan yang dihadapinya, khususnya masalah perekonomian rakyat. Sehingga berbondong-bondong para pengusaha memberikan bantuan dengan tujuan agar mereka dikenal rakyat, pada akhirnya rakyat akan memilih mereka.

Walaupun tanpa disadari bahwa rakyat telah digiring untuk selalu melihat ke atas dalam hal keduniaan. Kondisi tersebut harus diwaspadai, sebab akan membuat rakyat sellau bangga dengan materi yang telah didapat dari orang tua, tanpa melihat seberapa besar kontribusi orang yang membantunya dalam peningkatan amal ibadah. Jika pertolongan dengan materi itu dibiarkan merajalela, maka akan memasyarakatlah opini “Balas Budi”. Bukan “Balas Ikhlas”. Balas budi adalah suatu kondisi di mana pemberian keinginan itu harus dibalas dengan keinginan orang yang memberi. Sifat ini telah dijelaskan oleh Allah Swt. dalam Al Qur’an surat al-Baqarah ayat 264 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadi dia bersih (tidak bertanah) mereka tidak menguasai sesuatu pun demi apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Semoga Bermanfaat.

Rabu, 07 September 2011

Berhati hatilah didalam Mencari Informasi Lowongan Pekerjaan Terutama iklan lowongan kerja yg Melalui Media Cetak dan Internet

Perjalanan mencari sesuap nasi bukanlah hal yang mudah.tapi bukan berarti kita menyerah.memang mencari pekerjaan tidaklah mudah tapi….itu bagi mereka yang meyakini kalimat “yang BODOH itu”, bagi mereka yang tahu caranya tak akan bilang pekerjaan itu sulit.

maka dari itu tulisan ini semoga menjadi cara dan sikap antisipasi agar kita mempunyai slogan pekerjaan itu mudah dan sebagian besar alasan mereka mengatakan pekerjaan itu sulit karena mereka pernah “tertipu” dan tulisan ini adalah sebagian kecil dari antisipasi dari aksi penipuan.

ketika orang awam yang belum tahu akan pekerjaan baru, bisa ajah dia terjerumus pada “penipuan”,

modus penipuan yang mengatas-namakan perusahaan besar dan berkembang pesat adalah legimitasi mereka agar mendapat kesan yang baik dan menarik.

di perusahaan yang seperti itu alias penipu bagi para pekerja awam atau pemula maka kenalilah dulu kriterianya :

Antara lain perusahaan yang “penipu” :
1. mengatas-namakan perusahaan yang asing dan bertaraf internasional atau nasional
2.mengumbar janji seperti dalam kolom lowongan kerja yang mereka buat seperti “interview langsung kerja”.”proses cepat”,”incom 1′5-2′5jt” dll.
3.tidak ada psikotes tertulis maupun wawancara yang mendetail melainkan merka menggantinya dengan kewajiban formalitas atau kewajiban membayar/membeli/memasarkan prodak perusahaan.
4.penjaminan langsung kerja bahkan dijadikan karyawan tetap setelah prodak itu terjual.
5.tidak logis.jika memang perusahaan membutuhkan karyawan adm/hrd.ACC,MU,SPV,maka bukan jalan seperti itu yang ditempuh oleh perusahaan yang besar terkesan tidak profesional.
6.biasanya bertuliskan “global”,”group besar”,”INTERNASIONAL”dalam plang perusahaannya.
7.disuruh mengirim data via sms.
8.hati hati dengan keformalitasan yang meyakinkan
9.coba perbandingkan anatara mereka dalam meyakinkan klien dengan ke-komersialan mereka
10.alasan nomor.3 karena mengejar job,mendesaksedang membuka cabang diberbagai kotadan kabupaten se-indonesia raya.

nah seperti itulah sekiranya perusahaan yang bermodus penipuan mungkn ada yang lebik banyak lagi hal2 yang lebih meyakinnkan para calaon kerja dan penulis meminta kepada para pembaca untuk menambahkan apa saja yang termasuk kriteria perusahaan yang bermodus penipuan,boleh diisi di koment.

dan apabila sekiranya sudah banyak informasi tentang kriterianya penulis akan meralatnya akan dipubliskan sesuai yang berkoment.

Sebaiknya para calon kerja yang mencari lowongan seperti ADM,SPV,HRD,ACC,MTC,BU dan lain lain, sebaiknya :
1.cari informasi kepada oarang ataou lebih efektif dan valid cari perusaahaan tersebut di situsnya
2.jangan sesekali memberikan uang atau DP,biaya pendaftaran.

mungkin sekilas info ini tidak penting tapi alangkah baiknya tulisan ini dibaca bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan agar tidak terjerumus


saya memposting tulisan ini sama sekali tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan suatu instansi atau lembaga tertentu, atau untuk mengendorkan semangat rekan dan rekanita yg mungkin saja pada saat ini sedang bersemangat didalam mencari lowongan pekerjaan......saya memposting tulisan ini hanyalah sebagai media untuk memperingatkan kepada sesama agar tidak terlalu gegabah didalam mencari pekerjaan dan tidak begitu saja menerima tawaran pekerjaan yg belum jelas asal usulnya. bukankah pepatah lama mengatakan "Lebih baik mencegah daripada Mengobati"..????

mohon maaf apabila isi dalam tulisan ini ada yg kurang berkenan dihati rekan dan rekanita sekalian. Semoga postingan ini bisa membawa manfaat bagi kita semua. amien.








Sabtu, 23 Juli 2011

Apa Itu Mukmin


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Mukmin berarti orang yang beriman. Kata iman (percaya) seakar dengan:
(1) kata amanah (terpercaya),
(2) kata aman (keadaan aman). Secara etimologi, iman berarti pembenaran (tashdiq). Orang yang beriman adalah orang benar dalam memegang dan melaksanakan amanat, sehingga hatinya merasa aman.

Iman merupakan lawan dari ragu-ragu (rayb). Orang yang beriman, sekalipun tidak memiliki bukti empiris maupun nalar rasional, tetap mempercayai akan kebenaran sesuatu tanpa sedikitpun keraguan. Iman biasa diartikan, dari segi bahasa, dengan ”pembenaran”, ada sementara pakar mengartikannya sebagai ”pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga”. Pembenaran akal saja tidak cukup, yang penting pembenaran hati.

Dari segi pandangan agama, bukan semua pembenaran dinamakan iman. Iman terbatas pada pembenaran menyangkut apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad.saw yang pokok-pokoknya tergambar dalam rukun iman yang enam itu:
1) keesaan Allah,
2) wujud malaikat,
3) kitab-kitab suci,
4) nabi/rasul Allah,
5) hari kemudian,
6) qadla dan qadar.

Pengertian Iman kemudian disederhanakan menjadi tiga pengertian menurut ruang lingkupnya:

1) Iman adalah pembenaran (tashdiq) dalam kalbu. Pembenaran iman hanya dapat dilakukan oleh struktur kalbu, sebab kalbu merupakan struktur nafsani yang mampu menerima doktrin keimanan yang meta-empiris (gaib), informasi wahyu (sam’iyyah), dan supra-rasional.

2) Iman adalah pengucapan (qawl) dengan lisan. artinya pengucapan kalimat syahadat. Kalimat syahadat pertama mengandung arti peniadaan (nafi) tuhan-tuhan relatif dan temporer, seperti hawa nafsu, harta, dan kedudukan untuk kemudian ditetapkan Tuhan yang Maha sempurna, yakni Allah. Sedang kalimat syahadat kedua meyakini bahwa Muhammad adalah utusan yang menerima wahyu yang ajarannya harus direalisasikan dalam kehidupan nyata.

3) Iman adalah pengamalan (’amal) dengan anggota tubuh. Amal merupakan buah atau bukti keimanan seseorang. Pengamalan ajaran iman harus utuh (tawhid) dan memasuki semua dimensi kehidupan. Pada aspek ini, iman seseorang dapat berkurang dan bertambah, bertambahnya iman disebabkan oleh peningkatan amal, dan berkurangnya iman disebabkan oleh penurunan amal.

Jadi, pengertian mukmin adalah orang yang percaya kepada Allah, baik pembenaran dalam hati, pengucapan dengan lisan maupun pengamalan dengan anggota tubuh.

Artinya, iman harus diucapkan antara hati, lisan dan amal. Dari pengucapan hati, lisan dan perbuatan yang seiring dan konsisten membentuk sebuah kepribadian seseorang yang unik dan khas. Jika iman seseorang kuat, maka iman bisa berpotensi menjadi kekuatan untuk memerintah dan melarang. Ibnu Qayyim berkata, ”iman merupakan roh dan penyemgal; selalu membisikkan perbuatan baik dan melarang perbuatan buruk. Perintah dan larangan tersebut bergantung pada besar dan kuatnya iman".

Semoga sedikit tulisan ini bisa menjadi bahan diskusi yg bermanfaat untuk kita semua. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...

Selasa, 28 Juni 2011

My Name Is Khan,Derita dan Perjuangan Seorang Muslim versi Bollywood

My Name Is Khan adalah film India biasa, berkisah tentang percintaan manusia. Ini adalah love story. Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita –kota San Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC rubuh diserang teroris, 11 September 2001– menyebabkan film ini berbeda.

My Name Is Khan praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih dari itu, film ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat setelah serangan teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang selama ini tak banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

Mereka jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Banyak yang ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian dilepaskan karena tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah muslim menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan, dibuka paksa jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim dijarah atau dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?

Ada segerombolan orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh melakukan teror dengan menubrukkan pesawat terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya, dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas. Peristiwa ini amat mengerikan.

Tapi mengapa yang jadi korban pembalasan adalah umat Islam Amerika Serikat — berjumlah sekitar 7 juta di antara 300 juta penduduk– yang tak tahu menahu peristiwa teror itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih bersemayam di lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah dulu yang menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing) terhadap orang Indian di Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang kulit hitam dari Afrika.

Perlakuan rasis kepada muslim setelah 11 September memang memalukan. Soalnya, Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai negara kampiun demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak asasi manusia. Padahal melalui My Name Is Khan telah dipertontonkan betapa jelek Amerika Serikat setelah Peristiwa 11 September. Polisinya jelek, wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya pun jelek. Semua tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.

Tetap Terasa India

Di atas sudah disebutkan, My Name Is Khan adalah kisah love story yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood, ia kemudian menjadi melankolis, dengan adegan-adegan yang menguras air mata, untuk akhirnya diselesaikan dengan happy ending.

Film ini bercerita tentang seorang pemuda muslim asal Mumbai, India, bernama Rizwan Khan, diperankan Shah Rukh Khan (aktor paling top dunia saat ini), pergi merantau ke San Francisco. Kedatangannya ke Amerika Serikat atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang sudah lebih dulu menetap di sana, dan sukses.

Rizwan menderita Asperger’s syndrome, sejenis penyakit autis yang lebih ringan. Hal itu membuatnya tampak beda dengan manusia lain. Ia genius, mampu menghitung angka-angka yang rumit, bisa memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi kesulitan berinteraksi dengan tempat atau orang baru. Ia amat takut warna kuning.

Atas bantuan Zakir, Rizwan bekerja menjadi pramuniaga produk herbal untuk kecantikan. Semua berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan istrinya, Haseena, seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup rukun. Mereka taat beribadah.

Dalam pekerjaannya, Rizwan berkenalan dengan seorang perawat kecantikan, Mandira, diperankan artis nomor 1 India, Kajol Devgan. Janda yang ditinggalkan suaminya ini memiliki satu anak, Sameer alias Sam.

Rizwan dan Mandira saling jatuh hati lalu menikah dan menetap di luar San Francisco. Di tempat itu mereka mengusahakan salon kecantikan kecil. Mandira maupun Sameer menambahkan Khan di belakang nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya, Mark, seorang wartawan, tinggal bersama istrinya Sarah dan anaknya Reese.

Semua berbunga-bunga. Hanya saja beda dengan film India biasanya, tak ada adegan tari dan nyanyi di dalam My Name Is Khan. Sebagai ganti, sejumlah lagu dijadikan ilustrasi untuk menghiasi adegan tertentu. Dengan demikian film ini tetap terasa India.

Kemudian terjadilah peristiwa 11 September celaka itu. Mark, tetangga mereka yang wartawan, ditugaskan meliput perang di Afghanistan. Ia terbunuh di sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer, berubah menjadi musuh. Karena namanya, Sameer rupanya dianggap orang Afghanistan.

Haseena dikeroyok sejumlah lelaki hanya karena memakai jilbab. Trauma pada kejadian itu ia sempat melepas jilbab untuk sekian lama. Penduduk muslim lainnya mengalami nasib serupa: toko dirusak, rumah ditimpuk, atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India penganut Sikh – yang memakai serban di kepala – jadi korban karena disangka orang Afghanistan dan Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini menggambarkan betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam masyarakat Amerika Serikat.

Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali pertengkaran dengan Reese, ia dikeroyok sejumlah remaja bule hanya karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba menyelamatkan Sameer, tapi tak berhasil. Dalam keadaan sekarat Sameer sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.

Rizwan sedih sekali atas nasib putra tirinya. Tapi yang terguncang adalah sang ibu, Mandira. Ia anggap ‘’bencana’’ yang menimpa mereka karena nama Khan. Maka Rizwan sebagai biang bencana diusirnya. Ia perintahkan Rizwan mengatakan kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika Serikat: bahwa namanya Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am not a terrorist).

Rizwan pun ikhlas melakukannya. Ia mengembara seorang diri. Dalam pengembaraan, ia berhasil menghadiri sebuah acara terbuka yang dihadiri Presiden George W. Bush. Dengan susah-payah ia coba mendekati Presiden sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a terrorist. Belum sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal meringkusnya. Ia dicurigai sebagai teroris.

Apa yang ia alami kemudian sungguh menyakitkan: ia dimasukkan ke ruangan bersuhu panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat dingin. Berbagai siksaan lain harus ia terima. Agaknya film ini mengadopsi cara-cara badan intelijen Amerika, CIA, memperlakukan tahanan di berbagai penjara rahasia yang bisa dibaca di berbagai buku atau koran. Toh akhirnya Rizwan harus dibebaskan karena tak terbukti sebagai teroris. Itu juga berkat bantuan tiga wartawan India.

Nama Rizwan kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi karena menyelamatkan penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir. Kebetulan penduduk desa itu orang kulit hitam dan sama sekali tak beroleh bantuan atau pertolongan dari mana pun, termasuk dari pemerintah. Setelah berita ramai di televisi, bantuan datang dari orang-orang muslim yang dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.

Adegan ini tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New Orleans, Louisiana, akibat badai Katrina pada 2005. Peristiwa ini merupakan salah satu bencana alam terbesar di Amerika Serikat – dengan hampir 2000 korban jiwa. Mayoritas korban adalah masyarakat kulit hitam dan berhari-hari tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini menyebabkan Presiden Bush dikecam keras oleh terutama masyarakat kulit berwarna Amerika Serikat.

Pembunuhan Muslim Gujarat

Akhirnya happy ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi menangkap para remaja yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang terus tersiksa oleh rasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari Rizwan ke Georgia. Mereka berdua menghadiri sebuah acara pertemuan Presiden Barack Obama yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan para pendukungnya.

Mereka berhasil bertemu dengan Presiden baru itu. “Namamu Khan dan kau bukan teroris (Your name is Khan and you are not a terrorist),’’ ujar Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan hadirin. Dengan pengakuan Obama, maka selesailah tugas pengembaraan Rizwan seperti diperintahkan Mandira. Setidaknya dia telah membuktikan bahwa tak semua Muslim itu teroris. Kedua sejoli pun kembali bersama.

My Name Is Khan
dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10 Februari lalu. Dua hari kemudian film ini beredar di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan bagian dunia lainnya, termasuk di India atau Indonesia. Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan rekor penonton film India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. My Name Is Khan hanya tambah memperkuat dominasi Bollywood – pusat perfilman India di Mumbai — atas perfilman dunia sekarang, setelah mengungguli Hollywood.

The New York Times
, 13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah menarik melihat Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang diceritakan cuma dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan dari film itu tentang hubungan antara orang muslim (India) dengan orang kulit hitam Georgia. “Khan dengan mudah memancing air mata, sembari mengajarkan tentang Islam dan toleransi,” tulis koran utama Amerika Serikat itu.

Toleransi? Kata-kata itu kian sulit dipraktikkan sekarang. Di India sendiri, My Name Is Khan beredar di tengah ancaman kekerasan dari para pendukung Shiv Sena, partai Hindu radikal yang sangat anti-Islam. Shiv Sena berarti bala tentara Shivaji, Raja Hindu yang dulu berperang melawan kekuasaan Imperium Moghul yang Islam, yang menguasai India di abad ke-16 sampai tengah abad ke-19.

Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is Khan. Ketika film ini dirilis di Mumbai, 12 Februari lalu, ribuan polisi terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi Shiv Sena. Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film dari berbagai gedung. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua ribu pendukung partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.

Sebenarnya aksi Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada pemeran utama film itu, Shah Rukh Khan, aktor paling top India yang kebetulan beragama Islam. Akhir bulan lalu, Shah Rukh Khan yang memiliki klub kriket mempertanyakan daftar para pemain liga primer India yang tak mencantumkan satu pun pemain asal Pakistan. Padahal banyak pemain Pakistan masuk kelas pemain terbaik dunia.

Pernyataan Khan membuat marah pemimpin utama Shiv Sena, Uddhav Thackeray, mantan karikaturis yang sudah berusia 84 tahun. Di mata Thackeray, itu sebagai bukti bahwa artis yang sering digelari King Khan ini, sama sekali tak peduli pada serangan teroris dari Pakistan di Mumbai pada 2008. Thackeray menuntut Khan harus minta maaf secara terbuka. Khan menolak karena merasa tak bersalah.

Ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai, Khan yang oleh Majalah Newsweek dipilih sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh dunia, sedang berkeliling di luar negeri mempromosikan filmnya. Melalui twitter, Khan menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana kota kelahirannya. “Saya harap perdamaian menang dan kota dalam keadaan tenang,’’ tulisnya. Untuk diketahui penduduk muslim yang berjumlah 140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, sering kali menjadi korban kekerasan kelompok mayoritas Hindu.

Di Mumbai, misalnya, di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara lain dikobarkan Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, merebak kerusuhan anti-Islam di Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an muslim terbunuh.

Seperti dideskripsikan Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etik dari University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within (Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum muslim di Gujarat oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya wanita dan anak-anak, tapi orok dalam kandungan. Wanita hamil dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah kobaran api. Pemerkosaan terhadap wanita muslim banyak terjadi. Setelah diperkosa mereka juga dibuang ke api menyala.

Yang lebih parah, kerusuhan ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP). Banyak bukti ditemukan, seperti foto-foto atau rekaman video, yang menunjukkan keterlibatan Bajrang Dal, paramiliter kelompok sayap kanan Hindu, dalam pembantaian sadistis itu.

Setelah kerusuhan, banyak properti milik Muslim yang ditinggalkan, diambil alih orang-orang Hindu. Itulah yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai negeri demokratis. Dalam salah satu artikel yang ditulisnya, Profesor Nussbaum menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang mendapat liputan pers internasional. Seakan-akan karena korbannya orang Islam, bisa dibiarkan begitu saja.

sumber :

#http://answering.wordpress.com/2010/03/13/my-name-is-khanfilm-bollywood-yang-mengisahkan-derita-muslim/

www.hidayatullah.com

Rabu, 22 Juni 2011

sebuah kata Maaf.........Cukupkah ..?

Cukupkah kita hanya berkata maaf, ketika akibat perbuatan kita menyebabkan orang lain menjadi susah dan menderita..? Apa itu makna dari sebuah kata maaf..? Apakah itu hanya sebuah ucapan yang mudah meluncur dari mulut setiap kita melakukan kesalahan? atau sebuah penyesalan yang mendalam atas kesalahan yang harus kita tunaikan dengan tulus dan ikhlas..?

Banyak orang yang menganggap maaf-maafan itu sebagai suatu formalitas, jadi sekalipun orang yang belum dikenalpun meminta maaf tanpa alasan yang jelas. Mengenai minta maaf sendiri, terkadang kita sulit memaafkan seseorang terutama yang kesalahannya amat besar.

Maaf berarti sebuah kata penyesalan yang diucapkan karena sebuah perbuatan yang barangkali dirasakan menyakiti seseorang. Maaf mungkin saja tak bisa merubah keadaan tapi setidaknya dengan berani mengatakan maaf bagi seseorang yang sudah melakukan kesalahan itu adalah tanda sebuah penyesalan.

Kata maaf tidak boleh diucapkan sembarangan… Menurutku kata maaf itu sakral karena maaf itu merupakan sebuah penyesalan yang benar-benar tulus dan ikhlas ketika mengucapkannya. Jadi tidak seharusnya kita bilang ”maaf” apabila kata maaf itu tidak muncul dari hati yang terdalam untuk sebuah penyesalan yang mendalam….

Sekarang banyak sekali orang yang mengucapkan kata maaf hanya untuk mencari perhatian atau sensasi… Kesalahan sama yang berulang membuat kata maaf tidak ada gunanya dan hanya sebagai pembelaan diri.

Seyogyanya kata maaf itu harus diikuti dengan penyesalan dan keikhlasan

semoga bermanfaat.


jika ada salah kata atau perilaku saya yg kurang berkenan..........mohon maafkalah

jika ada hutang saya yg belum lunas................................mohon ikhlaskanlah

jika anda mempunyai tanggungan atau hutang kepada saya...............mohon Lunasilah.


Bersyukurlah


Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di
pekarangan sendiri.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan .
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah !
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .

Bersyukurlah !
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit .
Karena Di masa itulah kamu tumbuh …

Bersyukurlah !
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru .
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat .
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih .
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik…
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut…
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …



Jumat, 03 Juni 2011

Jalan(Hidup) Itu Masih(sangat) Panjang

Roda kehidupan selalu berputar di dalam perjalanannya pada sebuah jalan yang sangat panjang. Gelap pun bisa selalu datang menghampiri. Roda itu bisa berputar tanpa dikendalikan dan gelap itu pun bisa datang tanpa tak terduga. Namun apakah perjalanan harus terhenti dan dihentikan oleh gelap itu?! Bukankah jalan masih panjang dan di balik gelap masih ada terang?.............


Seorang pria mendesah dalam dan panjang. Hidupnya terasa sangat sepi dan hampa. Perempuan yang sangat dicintainya pergi meninggalkan dirinya. Kehidupan ekonominya pun berantakan. Teman dan sahabat pun bukan teman dan sahabat yang sesungguhnya. Tidak ada lagi yang dimilikinya selain dirinya sendiri.


Hanya ada satu mimpi dan keinginan yang merupakan cita-cita yang ingin terus dilanjutkannya. Dia ingin memberikan sesuatu bagi bangsa dan negaranya, meskipun itu yang membuatnya harus berpisah dengan kekasih tercintanya. Dia dianggap terlalu mementingkan semua itu dan terlalu keras mewujudkan semuanya itu. Terlalu idealis dan terlaluperfectionist. Dianggap terlalu berlebihan padahal yang lain tidak terlalu peduli. Kenapa harus melawan arus bila harus membuat semuanya berantakan?! Kenapa tidak mengikuti arus agar semuanya menjadi lebih nyaman dan menyenangkan?!


”Dulu dia pernah berkata bahwa dia mencintai saya karena dia melihat saya sebagai seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dan sangat berani untuk tetap bersikap teguh pada pendirian. Memiliki cita-cita yang mulia dan juga memberinya harapan besar. Namun semua itu ternyata justru semua itulah yang membuatnya juga pergi meninggalkan saya.

Apakah mungkin juga karena keadaan ekonomi saya sekarang ini yang membuatnya pergi?! Rasanya saya sekali bila memang demikian. Saya tidak ingin mempercayai semua itu.


Teman dan sahabat pun sepertinya bukan teman dan sahabat. Mereka hanya datang dan berkumpul saat semua kemewahan itu ada. Namun pada saat saya jatuh, siapa yang mau lagi datang?! Bahkan ditelpon pun mereka sepertinya enggan. Barangkali mereka takut saya akan berhutang atau menagih hutang, ya?! Tak sedikit juga yang terus saja sepertinya ingin membuat saya semakin hancur. Malah mereka yang kemudian saya ketahui menghancurkan saya, menipu saya yang sekarang ini sepertinya senang dengan kejatuhan saya ini. Mereka jadi bisa memiliki posisi yang selama ini mereka inginkan dan menggunakan kesempatan itu semaksimal mungkin dan dengan cara apapun juga. Yang penting mereka bisa meyakinkan semua bahwa sayalah yang salah, kacau, tidak baik dan tidak benar.


Ah, sudahlah. Saya sudah tidak mau memikirkannya lagi. Biarlah mereka semua merasa senang dengan semua ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa?! Toh, waktu yang akan membuktikan semuanya.”.........“Bagaimana dengan mimpi dan cita-citamu itu?!”..............“Iya juga, ya?! Terus terang saja saya sekarang ini gelap dan tidak tahu harus berkata apa?! Tidak tahu juga harus memulainya bagaimana?!


(Hmmm….bengong.com)


Memang sulit sekali bila harus menghadapi situasi seperti itu. Banyak sekali yang kemudian jadi larut dan tenggelam. Tidak lagi bisa bangkit dan berdiri. Berkutat pada masa yang kelam sehingga tidak pernah keluar dari kegelapan. Mimpi itu hanya tinggal angan dan semua cita-cita itu entah hilang ke mana.


Seseorang yang penuh dengan cinta pernah berkata lepada saya,” Peta jalan itu bukan untuk kamu robek atau mencoba mengubahnya tapi agar kamu tahu mana jalan yang sebenarnya dan mana jalan alternatif. Jika kamu ingin bergerak maju, bergeraklah.” Saya pun terdiam dan berpikir tentang ucapannya itu.


Jalan sangat panjang dan panjang sekali. Penuh liku dan juga kerikil tajam. Namun semua itu hanyalah sebuah pembelajaran dan juga tantangan. Belajar untuk mengintrospeksi diri dan juga menantang diri sejauh mana kita berani dan mau terus melangkah. Meneruskan semua janji dan ucapan yang sudah terurai. Bila memangsemua itu adalah sebuah tanggungjawab dan juga keyakinan, kenapa harus berhenti dalam melangkah dan maju ke depan menggapai segala mimpi?!


Semua yang diawali oleh niat baik dan tulus serta ikhlas pasti akan membuahkan hasil yang baik pula. Semakin banyak pula tantangan dan cobaan yang harus dihadapi. Angin akan semakin terus bertiup dengan kencang dan semakin kuat mencoba untuk merobohkan. Terkadang juga membuat kita bertanya, “Kenapa kalau yang berbuat tidak baik malah lebih mudah, ya?! Kok, sepertinya malah lancar-lancar saja?!” Pernah, kan, berpikir seperti itu?!


Apa yang sudah terjadi terjadilah. Ikhlaskan saja semua itu karena semua pasti ada hikmah dan manfaatnya. Rendahkanlah hati dan bercermin atas semua yang terjadi itu. Jangan terus menerus berada dalam gelap karena terang itu ada di balik sana. Semua yang diberikan adalah yang terbaik diberikan oleh-Nya. Lanjutkanlah perjalanan dan jangan menyerah. Yakinlah bahwa semua mimpi itu bukanlah hanya sekedar mimpi. Berjuang terus dan lakukan yang terbaik untuk mencapainya. Jadilah selalu diri sendiri dan jangan pernah takut untuk menjadi diri sendiri. Manusia bisa bicara, tertawa, dan melakukan apapun. Namun, Nilai Manusia tiada artinya karena hanya nilai dari Dialah yang paling berharga. Dia Maha Tahu dan Maha Pengasih juga Penyayang. Siapa lagi kalau bukan Dia?! Dia Adalah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.


Semoga Bermanfaat............!!!


dikutip dari catatan

http://facebook.com/eric.sonata.rhoma

pink diary

and various other sources

Inspiration from the song Dewa 19 entitled "jalan kita masih panjang".